Selasa, 23 November 2010

Balo-Balo Mantu Poci dan Tari Endet : Kesenian dari Tegal yang Terlupakan


Meskipun kota Tegal tidak diakui sebagai pusat budaya Jawa, namun kesenian di sini berkembang cukup pesat. Berbagai macam diskusi budaya digelar dengan menghadirkan budayawan nasional dan lokal. Kesenian asli kota Tegal adalah tari endel dan balo-balo.

Balo-balo Mantu Poci adalah sebuah pertunjukan seni rakyat di daerah pesisir Kota Tegal, khususnya di daerah Muarareja dan Tegalsari  Kota Tegal. Tradisi mantu poci memadukan antara unsur bunyi/musik seni rakyat balo-balo dan unsur cerita mantu poci, yang dilaksanakan apabila suami istri yang tidak mempunyai keturunan, namun berniat menggelar pesta hajatan layaknya keluarga-keluarga lainya. Maka sebagai pengganti mempelainya adalah sepasang poci raksasa yg dihiasi dan didandani layaknya sepasang pengantin.  Dapat dikatakan bahwa gelar mantu poci sama dengan gelar hajatan perkawinan pada umumnya, yang membedakan hanya mempelainya, yaitu  berupa poci.


Selain sebagai harapan agar pasangan suami istri segera mendapatkan keturunan, mantu poci juga bertujuan agar penyelenggara merasa seperti menjadi layaknya orang tua yang telah berhasil membesarkan putra putri mereka, kemudian dilepas dengan pesta besar dengan mengundang sanak saudara, dan relasi.

Tari Endel merupakan tarian khas Kota Tegal dengan asesoris topeng, menggambarkan gadis-gadis yang sedang beranjak remaja, yang penuh dengan canda dan keceriaan khas remaja yang ditunjukkan melalui gerakan-gerakan tangan dan tubuh yang penuh ekspresif. Ibu Sawitri merupakan generasi pertama penari endel.


Selain itu, seni sastra juga juga merupakan andalah Kota Tegal. Penyair Tegal yang termasuk dalam angkatan 66 adalah Piek Ardijanto Suprijadi. Sementara Widjati digolongkan ke dalam penyair angkatan '00'. Kota Tegal tercatat memiliki dua tokoh perfilman nasional yang cukup produktif yaitu Imam Tantowi (sutradara dan penulis skenario), dan Chaerul Umam (sutradara).

Beberapa teater yang kiprahnya menjadi konsumsi berita nasional adalah teater RSPD (Yono Daryono), teater Puber (Nurhidayat Poso), teater Wong (M Enthieh Mudakir), teater Hisbuma (Dwi Eri Santoso), Teater Q (Rudi Itheng) dan lain-lain. Di bidang musik tercatat beberapa nama yang menjadi cikal bakal lahirnya musik Tegalan yaitu Hadi Utomo, Nurngudiono, dan Lanang Setiawan.

Masyarakat Tegal dikenal memiliki karakter cenderung terbuka. Maka mampu melahirkan keakraban pergaulan. Salah satu keunikan wong Tegal adalah cara menyapa kepada sesama teman sebaya yang menggunakan panggilan sedap, dan bikin geli: 'Jon' dan 'Jack'. Pendatang baru di kota Tegal tidak perlu heran dengan cara ini. Orang terbiasa saling sapa dengan 'Jon', kepada rekannya. Sebutan 'Jon' selain lebih terkesan manusiawi dapat melahirkan keakraban dalam pergaulan sehari-hari. Bandingkan dengan kota lain. Tak jarang kita jumpai untuk menyapa sesama rekan seseorang cukup menggunakan sebutan Dus (wedhus-kambing), Thek (kethek-monyet) atau Su (asu-anjing). Pemakai sebutan ini pun tidak hanya berlaku bagi masyarakat bawah saja. Kalangan eksekutif, legislatif dan usahawan di Kota Tegal pun terbiasa menggunakan. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar